Pentingnya Pendidikan Jomblo di Usia Dini dan Galau Pasca ditinggal Mantan

Category: Jomblo 23 0

pendidikan jomblo usia dini

Mengapa pendidikan Jomblo itu penting ?

pertanyaan diatas menjadi alasan kenapa saya sebagai penulis tega membuat postingan ini.

Maraknya kasus kekerasan verbal  yang terjadi dalam pergaulan jomblo saat ini dan sakit hati yang diterima dari kebaperan dan mantan belakangan ini tidak lagi hanya mengancam siswa-siswa pada tingkat pubertas anak diatas 17 tahun, seperti yang kita ketahui bersama anak-anak sekolah dasar sudah ada yang smsan dengan papi-mami dan abi-umi, kasus yang masih hangat dikepala saya adalah kisah cinta Cangkul dan Pacul yang sungguh tragis dan kekerasan pelecehan sex pada anak yang dilakukan oleh para jomblo.

Eksploitasi jomblo, pada anak dibawah umur nyatanya juga sering terjadi oleh orang-orang dekat, setiap datang ke arisan keluarga pasti ditanya “kapan nikah” dan “jodohnya mana” padahal anak tersebut masih dibawah 17 tahun. Meningkatnya kasus kekerasan yang dilakukan oleh para jomblo dan kekerasan yang ditujukan kepada jomblo  bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan jomblo yang seharusnya sudah mereka perloleh sebelum terjadianya sakit hati pada pacar pertama dan mengapa pandangan mereka tentang sebuah status jomblo harus di hilangkan, padahal Jomblo itu tidak ngenes apalagi harus di kasihani.

Tapi presespsi pendidikan jomblo masih di anggap tabu untuk dibicarakan bersama, tidak pernah kan kalian mendengarkan curhatan orang tua atau guru tentang kisah cinta dan kegalauan mereka ?, paling Cuma dengar “anak kecil tidak boleh pacaran” atau “ish ada jomblo, kampungan !!

Pendidikan Jomblo harusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap anaknya dalam menjaga aturan dan norma dalam menjalin masa pacaran dan pasca galau setelah ditinggal mantan. Bukanya anak kecil belum boleh pacaran, tapi tayangan TV kita sendiri sudah mengajarkan cara untuk berpacaran dengan segudang pembahasan yang salah. Bahkan internet sudah menjadi Mofost Monster bagi pendidikan Jomblo.

Tapi dalam kasusnya. Orang tua, teman dan orang yang lebih dewasa justru merekalah yang bersikap apatis dan tidak berperan aktif untuk memberikan pemahaman bahwa jomblo itu tidak ngenes dan sakitnya hati pasca putus dari sang mantan. Malahan merekalah yang mendorong agar mau memeluk kepercaryaan pacaranisme.

Padangan masyrakat sepertinya masih terlalu sempit dalam hal mengartikan Jomblo, yang hanya dianggap sebagai sebuah status mengenaskan dan aktivitas mesum karena birahi yang tidak tersalurkan.

Namun seberapa jauh pendapat ini dibenarkan ?

Dalam sebuah penelitian Palsu mengenai Bicara Jomblo dan galau pasca ditinggal mantan, menyatakan bahwa lebih dari 700 siswa smp keatas kehilangan keperawanan dan keperjakaanya karena pacaran dan hal ini timbul karena kekerasan verbal yang mereka alami sebagai penyandang cacat asmara yang di kenal sebagai Jomblo.  18% diantaranya mengaku benar-beran pacaran setelah beberapa bulan mengalami kekerasan verbal tersebut.

Pacarannisme, memang bagian integral dalam kehidupan untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan dan berkeluarga yang sakinah warahman dan lain sebagainya. Tetapi seperti kata pejuang jomblo Sosialis “pacaran adalah candu baginya” yang merusak moral anak bangsa.

Perlu adanya pembenahan bersama demi terselamatkanya masa depan kaum Jomblo dimasa depan dari semakin terbukanya arus globalisasi lengkap dengan dampak negative dan postive yang diterima oleh jomblo diusia dini tanpa adanya filterisasi dari orang tua, teman dan sekolah.

Tulisan ini dimaksud untuk memberikan informasi kepada para Jomblo heaters, orang tua, sahabat tentang status Jomblo yang tidak selamanya ngenes dan menderita dan bukan juga sebagai status yang jijik untuk disandang. Cukup deh mblo, capek mengetik.

Related Articles

Add Comment